Oleh : Aulia Rahman, SH (Pak Guru)
Disampaikan tanggal 16 September 2011 di Radio Carolina AM 1080 KHz
Puasa ramadhan adalah sebuah waktu bagi umat muslim untuk memperbaiki keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT, hal itu diyakini dan dimanfaatkan oleh semua umat islam yang bertaqwa untuk mendekatkan diri serta memperbaiki keimanan dan ketaqwaannya selama satu bulan penuh, dengan menahan segala nafsu yang negatif dari dalam dirinya sehingga setiap insan menjadi manusia yang benar-benar bertaqwa pada Allah, maka sebagai konsekuensi kesempurnaannya sebagai manusia yang bertaqwa, umat muslim merayakannya dengan melakukan perayaan hari raya pada tanggal 1 syawal setelah ramadhan yang sering kita kenal dengan hari raya idul fitri dengan melakukan shalat ied dan dilanjutkan dengan saling berjabat tangan serta saling memaafkan.
Idul fitri dari makna bahasa adalah kembali kefitrah (kembali suci), setelah satu tahun berjalan menjalankan tugas sebagai manusia dan melalui proses diklat dalam bulan ramadhan, inti kemenangan itu adalah proses kita maaf memaafkan, banyak kasus yang terjadi di masyarakat, para orangtua dalam proses pendidikan spiritual atau agama sering sekali salah kaprah, sebuah contoh dalam sebuah keluarga orangtua kurang menanamkan contoh bagaimana ibadah di bulan ramadhan sebenarnya, banyak terjadi diminggu-minggu awal ramadhan masjid full dengan jama’ah shalat tarawih, namun setelah minggu-minggu akhir masjid sepi dengan jama’ah shalat tarawihnya.
Padahal Rasulullah menganjurkan di minggu atau di sepuluh hari terakhir kita diupayakan untuk meningkatkan ibadah di bulan ramadhan, naah... di masyarakat justru kebalikannya. Pertanyaannya apakah kita sudah mengajarkan perintah rasul kepada anak kita?? atau malah kita mengajari anak kita dengan sikap gaya hedonisme dengan membeli baju baru untuk digunakan pada saat hari raya idul fitri dengan meninggalkan segala ibadah yang dianjurkan oleh Rasulullah.
