Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Oktober 2014

TITIK JENUH

Jenuh, mungkin itu yang sedang terasa di diri ini, mungkin Anda juga pernah atau sedang merasa hal yang sama dengan saya. berbagai macam sumber penyebab jenuh itu terjadi, bisa karena sedang monoton kegiatan kita, atau kita sedang tidak ada pekerjaan. Menjalani pekerjaan yang sama setiap hari tanpa ada tantangan maupun hal baru yang bisa memicu denyut jantung kita sedikit berdenyut cepat akan membuat otak kita merasa jenuh.

Berbagai macam bidang pekerjaan bisa terjangkiti rasa jenuh pelakunya. coba bayangkan Anda bekerja orientasi terbesar mencari apa? pasti jawabannya uang, dan pahamilah uang itu tidak ada batas nominalnya. Maka banyak sekali pekerja yang merasa jenuh dengan rutinitas yang sama dan tanpa ada penambahan income yang di bawanya pulang.

Berbeda dengan orang yang bekerja lepas, uang dan model pekerjaan sehari-hari dapat berubah, kadang penghasilan kecil kerjanya berat, kadang juga kerjanya kecil hasilnya besar, tapi ada juga yang imbang antara kerja dan hasilnya, namun percayakah Anda pekerjaan semacam itu juga mengundang potensi jenuh dengan rutinitas yang sama atau bahkan dengan jarangnya jobs/pekerjaan yang meminta tenaganya.

Mari kita pahami bersama, semua itu karena kejenuhan, entah dalam kerja, rumah tangga atau yang lain dan penyebab utamanya adalah kita kurang bersyukur dengan apa yang sudah kita dapatkan baik materi, kesempatan maupun nikmat lainnya yang diberikan Tuhan pada kita. Maka mulai detik ini ayo kita ubah pola hidup kita dengan meminta pada tuhan keberkahan dan bersyukur pada Tuhan atas apapun yang telah di berikan.

Sedekah, amal pada anak yatim, kaum dhuafah, lembaga Amil Zakat, dan guru/ustadz/pengajar merupakan hal mulia, tanpa mereka mungkin harta dan hati kita akan di gelayuti kejenuhan itu. dengan mengingatkan diri sendiri dan umumnya untuk Anda semua mari kita biasakan bersedekah bila mendapat rizki maupun mendapat ujian dari Tuhan. Semoga hari kita selalu dekat dengan Allah Swt. Amiin

Rabu, 11 Desember 2013

PERENCANAAN KEUANGAN ALA NABI YUSUF AS

PERENCANAAN keuangan bisa dibilang ilmu baru di Indonesia yang mulai dipraktekkan pada akhir 1990-an atau awal 2000-an. Di negara-negara maju, justru telah populer sejak puluhan tahun sebelumnya.
Sejatinya, ilmu perencanaan keuangan sudah dipraktekkan puluhan ribu tahun silam. Di antara bukti sejarahnya, kisah Nabi Yusuf AS yang membuat dan mempraktekkan strategi menghadapi masa paceklik.
Al-Quran mencatat kisah Yusuf menerjemahkan mimpi Raja Mesir. Dalam tidurnya, sang raja melihat 7 ekor sapi gemuk yang digantikan 7 ekor sapi kurus serta gandum berisi digantikan gandum kering.

Banyak orang yang telah diminta pendapat mengenai arti mimpi tersebut. Tapi hanya Yusuf yang bisa memberi tahu maknanya. Katanya seperti tersirat dalam sejarah, akan datang 7 tahun masa panen, yang kemudian diikuti 7 tahun masa paceklik. Setelah itu, masa subur Mesir akan kembali.

Seperti kita tahu, sejak zaman dahulu kala, pertanian Mesir sangat bergantung pada Sungai Nil. Jika sungai mengalirkan airnya dengan baik, wilayah Mesir subur dan hasil panennya melimpah. Tapi, bukan tidak mungkin Sungai Nil mengering atau bahkan meluap.

Usai memaknai mimpi, Yusuf melanjutkan nasihatnya pada sang raja. “Hendaklah engkau bertanam 7 tahun lamanya sebagaimana biasa. Maka apa yang engkau tuai hendaknya kau biarkan di bulirnya, kecuali sedikit untuk engkau makan.” [Surah Yusuf ayat 47]

Selain membuat prakiraan kondisi di masa depan, Yusuf juga memberikan solusinya. Mengingat 7 tahun masa panen diikuti 7 tahun masa paceklik, hendaknya kita menyimpan hasil panen tetap dalam bulirnya sebagai cadangan saat paceklik tiba.

Sejarah membuktikan, walaupun menghadapi masa paceklik, rakyat Mesir tetap Makmur lantaran ada yang disimpan dari hasil panen sebelumnya. Sampai rakyat dari negeri tetangga yang kelaparan pun meminta bantuan mereka.

Bagi kita yang hidup di zaman sekarang, masa panen adalah masa produktif bekerja atau berbisnis. Masa pacekliknya, yaitu pensiun kelak. Hendaknya kita juga menyimpan hasil panen saat ini untuk menghadapi masa paceklik nanti.

Menariknya dari perkataan Yusuf adalah agar tetap menyimpan hasil panen dalam bulirnya, kecuali sedikit untuk dimakan. Saya mendapatkan kesan dari ayat ini bahwa hasil produksi kita sekarang seharusnya disimpan terlebih dahulu kecuali sedikit yang dikonsumsi. Bukannya dibelanjakan dulu, jika ada sisa lalu disimpan.

Terinspirasi dari kisah ini, saya menggunakan istilah “saving dulu, baru shopping”, seperti termaktub dalam buku saya yang berjudul: “Habiskan Saja Gajimu”. Model belanja dulu kemudian menyimpan, ternyata tidak efektif.

Hal kedua yang menarik dalam pernyataan Yusuf, yaitu panen 7 tahun dan paceklik 7 tahun. Secara logika matematika, mestinya separuh disimpan dan separuh dimakan bisa mencukupi. Tapi ayat tadi memerintahkan untuk makan sedikit saja, atau kurang dari setengah. Kenapa?

Nilai gandum memang tidak akan berkurang jika disimpan dalam bulirnya. Tapi, jumlah penduduk Mesir tentu bertambah banyak selama 7 tahun tersebut. Maka diperlukan jumlah gandum yang lebih besar untuk memberi makan rakyat di masa depan.

Dalam konteks kehidupan sekarang, ini yang kita sebut sebagai inflasi. Nominal uang yang kita simpan mungkin tetap atau bertambah, tapi harga-harga bertambah mahal. Maka strategi yang bisa kita tiru adalah memperkecil konsumsi, perbesar investasi.

Tanpa harus punya keahlian membaca mimpi seperti Nabi Yusuf, kita sudah tahu bahwa harga-harga naik di masa depan. Kita sudah faham kebutuhan bertambah besar seiring perkembangan keluarga. Kita pun mafhum akan menghadapi masa tidak produktif saat pensiun.

Akankah kita diam saja? Atau lakukan sesuatu seperti Nabi Yusuf?
Lakukan Salam Berkah, (Ahmad Gozali)

Minggu, 25 September 2011

Bunga Mawar Dari Anak Yatim


Oleh : Aulia Rahman, SH (Pak Guru)

‘’ Sebuah kisah nyata yang terilhami dari perjalanan cinta sepasang anak manusia yang berusaha menyatukan cinta untuk meraih ridho Allah Swt. ‘’
Perjalanan cinta memang indah bagi sebagian pemuja cinta, pahit, getir dan manis merupakan sensasi cinta bagi mereka. Begitu pula bagiku belajar mengarungi hidup dengan cinta mulai sejak duduk dibangku akhir SMA, kata orang masih cinta monyet tapi bagiku tidak karena masa cinta monyet itu sudah aku lalui saat aku ada dibangku SMP.
Kalau boleh dibilang, kata temanku. aku melewati waktu dalam hidupku lebih cepat tiga tahun dari seharusnya, dalam mengenal sosok wanita aku tidak pernah main-main dalam memastikan jati dirinya, dibangku SMA aku pernah terpikir untuk segera menikah setelah lulus sekolah, hal itu aku pilih karena menikah muda dapat mengurangi resiko maksiat yang aku lakukan, belum lagi jaman sekarang melihat pergaulan anak muda sekarang sangat menggoda nafsu kaum lelaki.

Minggu, 11 September 2011

Makna MAAF IDUL FITRI Pada Anak Kita


Oleh : Aulia Rahman, SH (Pak Guru)
Disampaikan tanggal 16 September 2011 di Radio Carolina AM 1080 KHz

Puasa ramadhan adalah sebuah waktu bagi umat muslim untuk memperbaiki keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT, hal itu diyakini dan dimanfaatkan oleh semua umat islam yang bertaqwa untuk mendekatkan diri serta memperbaiki keimanan dan ketaqwaannya selama satu bulan penuh, dengan menahan segala nafsu yang negatif dari dalam dirinya sehingga setiap insan menjadi manusia yang benar-benar bertaqwa pada Allah, maka sebagai konsekuensi kesempurnaannya sebagai manusia yang bertaqwa, umat muslim merayakannya dengan melakukan perayaan hari raya pada tanggal 1 syawal setelah ramadhan yang sering kita kenal dengan hari raya idul fitri dengan melakukan shalat ied dan dilanjutkan dengan saling berjabat tangan serta saling memaafkan.
Idul fitri dari makna bahasa adalah kembali kefitrah (kembali suci), setelah satu tahun berjalan menjalankan tugas sebagai manusia dan melalui proses diklat dalam bulan ramadhan, inti kemenangan itu adalah proses kita maaf memaafkan, banyak kasus yang terjadi di masyarakat, para orangtua dalam proses pendidikan spiritual atau agama sering sekali salah kaprah, sebuah contoh dalam sebuah keluarga orangtua kurang menanamkan contoh bagaimana ibadah di bulan ramadhan sebenarnya, banyak terjadi diminggu-minggu awal ramadhan masjid full dengan jama’ah shalat tarawih, namun setelah minggu-minggu akhir masjid sepi dengan jama’ah shalat tarawihnya.
Padahal Rasulullah menganjurkan di minggu atau di sepuluh hari terakhir kita diupayakan untuk meningkatkan ibadah di bulan ramadhan, naah... di masyarakat justru kebalikannya. Pertanyaannya apakah kita sudah mengajarkan perintah rasul kepada anak kita?? atau malah kita mengajari anak kita dengan sikap gaya hedonisme dengan membeli baju baru untuk digunakan pada saat hari raya idul fitri dengan meninggalkan segala ibadah yang dianjurkan oleh Rasulullah.

Rabu, 20 April 2011

Perempuan dan Surga Allah


Didedikasikan Untuk Istriku Tercinta dan Para Perempuan
Oleh : Aulia Rahman, SH
Sahabat sukses, pernahkah kita bertanya ''Kenapa kita bisa seperti ini?'' karena siapa kita bisa begini? Kita bisa berjalan, berbicara, membaca, menulis bahkan kita bisa menjadi dewasa, pernakah kita bertanya berkat siapa kita dapat begini? Pasti tanpa berpikir panjang semua orang pasti akan menjawab kalau semua itu berkat orangtua yang telah merawat dan membesarkan kita, terutama sosok manusia yang dikaruniai Allah dengan segala keindahan dan kesempurnaannya, yang biasa kita panggil ibu.

Dalam proses hidup manusia, kita hidup dipengaruhi oleh sosok perempuan yang senantiasa membimbing dan mendidik kita untuk menjadi dewasa, dalam kehidupan ini hanya perempuanlah yang selalu menggunakan hatinya dalam segala hal yang akan dia lakukan, sikap yang lembut dan bijaksana selalu lekat pada dirinya, tak peduli itu akan berdampak buruk untuknya hati seorang perempuan akan selalu menuntun dalam mengambil keputusan yang akan dia lakukan.

Bahkan karena kebijakan dan keistimewaannya dalam agama kita perempuan sangat dikagumi dan dihargai buktinya ada beberapa nama surat dalam Al Quran yang diambil dari nama sosok perempuan suci yang mengemban amanah Allah bahkan salah satu surat Al Quran mempunyai arti dalam bahasa Indonesia yaitu perempuan, ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam Hadistnya :